Rumit.
Hello, saya kembali.
Saya mencoba menenangkan diri, menjauh dari hobi saya, karena suatu kesalahan yang saya buat sendiri.
Saya mencoba menjabarkan sedikit permasalahan yang saya tidak mampu berpikir dan menguraikannya sendiri, sendirian. Dan, nyatanya ini sudah remuk dan berserakan.
Dengan seseorang asing, kadang kamu temukan keintiman yang lain. Sebuah hangat yang bukan pelukan, bukan ciuman. Seperti angin yang tak bisa di duga kapan kencangnya. Ada lalu tak ada. Hangatnya kadang melebihi pertemuan dua tubuh yang saling memasrahkan diri. Bergetar, dan tak ingin tanggal- jika boleh tinggal lebih lama. Aku ingin tinggal lebih lama di kota ini, kota rumit ini.
Tiga hari lalu saya melihat beberapa foto yang kamu gabungkan menjadi satu postingan, menggunakan fitur instagram terbaru. Seseorang dengan kaos merah yang saya suka saat kamu kenakan itu, dengan kepulan asap rokok di mulutnya. Tentu dengan kumis tipis yang runcing beda panjang antara sisi kanan dan kiri-mu itu. Seruncing kedua matamu dengan kantung hitamnya yang terlihat begitu berat. Seperti ada sesuatu yang bergelantung di sana dan tak mau lepas. Entah apa. Bisa jadi ia rasa bersalah karena sudah menghancurkan kehidupan seseorang, atau rasa bangga setelah berhasil memporak-porandakan perasaan seorang perempuan yang katanya ia sayang, atau mungkin prasangka-prasangka masa depan yang ia rancang indah penuh tipu. Saya tidak pernah betul-betul tahu.
Nol tiga kurang lima belas menit waktu indonesia barat. Restoran cepat saji ini buka 24jam dengan wifi gratis dan menjual es krim kesukaan saya. Strawberry top. Sepi. Senyap. Namun ada yang lebih senyap, hatiku. Hanya ada saya, dan dua meja dari meja saya diisi sepasang laki-laki dan perempuan.
Si perempuan, rambut coklatnya terurai dan mengenakan kemeja abu-abu. Sibuk berkutat dengan ponselnya, sedang si laki-laki sibuk dengan pertanyaannya. Suaranya datar, seperti mie goreng kesukaan saya.
🙇 : "Saya bisa memberi kamu banyak hal, tapi tidak bisa memberi waktu lebih lama," kata laki-laki itu tanpa aba-aba.
Fanta float Dan strawberry top mampir ke meja mereka. Perempuan itu menyukai es krim sama seperti saya. Ponsel perempuan itu ia masukan ke dalam kantong kecil bagian depan tas coklatnya. Ia kemudian menyapa jalanan di depan restaurant cepat saji dengan sebuah tarikan napas panjang, lalu di jilatnya strawberry top itu.
🙎 : " Ada yang lebih rumit dari pernikahan, hari-hari setelahnya,"
🙇 : " Yang saya tahu, kamu pernah bilang kamu mencintai saya. Buktikanlah. "
🙎 : " Saya tidak bisa hidup seperti perempuan lain. Kuliah. Lulus. Menikah. Lalu berdiam diri di rumah menunggumu pulang bekerja. Saya ingin pergi kemana saja. Ke tempat-tempat asing. Tidur di mana saja saya mau. Bertemu orang-orang penuh kejutan. Kamu tahu dunia saya sudah cukup membosankan, bukan? "
🙇 : " Kamu bisa pergi kemana saja dengan saya. Seperti yang kita lakukan sekarang. "
🙎 : " Pergi diiringi berbagai pertanyaanmu yang tak pernah selesai? "
🙇 : " Ayolah, saya tidak mau dua tahun kita sia-sia. "
🙎 : " Saya tidak pernah merasa sia-sia. "
Si laki-laki meneguk fanta floatnya yang sudah mulai mencair. Disusul tarikan napas. Dalam sekali. Lalu diam. Lalu sepi. Sesuatu begitu ingin keluar dari tempatnya bersembunyi.
Dua jam saya berpikir tentang pikiran kamu, Pikiran yang sama kamu gunakan bertanya, apakah saya sabaiknya di pertahankan atau di lepaskan. Di ganti lebih lugas atau di biarkan bertahan di dalam ruang antara sudah selesai atau masih andai.
Saya lelah bersembunyi. Tidak ada yang berubah. Belum ada. Saya masih jadi anak gadis ibu yang gemar kemana saja dengan motor putih ini, jika saya merasa kesepian. Saya masih jadi anak gadis ibu yang gemar menulis apa saja untuk memenuhi timeline mu agar kamu baca kemudian kamu menelpon dan mengajak saya jalan-jalan pukul satu pagi. Keluar kota hanya sekedar membeli kopi di sebuah mini market. Membicarakan hal apa saja. Lalu membuat beberapa kesepakatan tapi tetap diingkari. Kemudian sepanjang perjalanan kamu memegang tangan saya dan mengatakan kamu mencintai saya.
Cinta yang saya punya tidak pernah kamu tau besarnya. Atau barangkali kamu sangat tahu. Saya sangat tahu apa yang terjadi. Dan kita hanya sibuk berbasa-basi sekenanya.
Sesungguhnya kamu tidak pernah benar-benar meninggalkan saya, kalau saya boleh menghibur diri. Saya yang memilih tinggal dan bersembunyi. Saya bersembunyi dari ketakutan saya, kamu akan mengatakan apa saja kepada lekaki yang seharusnya tidak saya sakiti perasaannya. Tapi saya tidak berpikir tentang perasaan kamu. Dan ketika saya berdo'a saya tidak bisa bersembunyi lebih lama lagi, kamu mengatakannya juga. Terimkasih. Setidaknya, sekarang saya tidak perlu lagi bersembunyi. Saya berharap semoga kamu mau memaafkan saya, seperti dia. 🙂
Saya merindukan kamu. Sebab itu saya datang lagi dengan alasan yang belum kamu tahu. Mungkin sudah ada yang menggantikan saya sekarang. Yang saya tahu, kota ini begitu sesak. Memaksa saya melarikan diri beberapa hari untuk rehat. Membuat saya sengaja melihat lagi story mu. Alasan yang sengaja saya buat setelah satu minggu mengumpulkan keberanian.
-Tamat-
Komentar
Posting Komentar