Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Terlanjur.

Beberapa tahun dari sekarang, kita akan bertemu lagi tanpa sengaja. Di tempat yang dulu pernah kita datangi bersama, di waktu yang sama. Mungkin kau sudah lupa, tapi gerak tubuhmu tanpa sadar membawamu ke tempat itu seakan kenangan tentang kita dulu sudah mendarah daging di hatimu. Kau akan tak sengaja melihatku. Dan aku akan terkejut melihatmu. Lalu kita berdua saling melempar senyum yang kita tau itu tak lebih dari pura-pura agar tak kentara. Ada yang berbeda kulihat di dirimu, akza itu sudah besar sekarang. Aku akan mengucapkan selamat karena kamu sudah berhasil menjadi ayah yg baik (lagi). Kau akan mengangguk mengiyakan. Diawali dari basa-basi, ternyata kita berujung dengan berbicara panjang lebar membicarakan semua yang telah kita lewati semenjak perpisahan dulu itu. Kau melihat ke arah jemariku. Kau tak menemukan apa yang kau cari di sana, lalu kau melihat ke arahku. “Aku masih ingat, dulu aku selalu berencana menggantikan seseorang dari hidupmu”. Kau terkekeh seb...

Menyerahkan diri

Coba sejenak kamu bayangkan, di dini hari yang begitu mendung dan dingin seperti ini, kamu pulang ke rumah dari segala lelahmu menyelesaikan hobimu, futsal. Melewati puluhan lampu jalan ber-embun yang lembab di hujani pertanyaan-pertanyaan curiga yang sering dia lontarkan kepada kamu hingga pada akhirnya kamu sampai di dekapku. Kamu pulang dan mendapati aku sudah ada di sana. Duduk di ruang sepetak yang berisi kasur dan boneka beruang coklat besar pemberian mantan kekasihku, kita menyambutmu yang begitu kelelahan. Pulangmu kusambut dengan kecupan di kening dan pelukan yang erat. Lalu kemudian kamu rebah di sebelahku, menceritakan segala keluh kesah harimu di tempat kerja, di lapangan futsal, dan di jalan. Menceritakan tentang apa makan siangmu, loyo-nya teman team mu di lapangan, dan bertemu siapa saja kamu siang tadi. Kita duduk di satu kasur yang sama. Bercerita tentang banyak hal yang tak kunjung ada habisnya. Merencanakan tentang perubahan-perubahan baru di sudut angan kita. Juga...

Kudamaikan Perasaanku.

tidak pernah kurasakan sejauh ini berjarak denganmu. semakin hari, tembok yang kau bangun semakin tinggi. sedang di sini, aku hanya diizinkan untuk menebak apa pun yang tersembunyi. kau tahu bukan, bahwa aku hanya manusia biasa. Tuhan tidak memberiku keistimewaan untuk bisa membaca pikiran orang. tetapi tidak apa-apa, aku akan tetap menerima jika pada akhirnya bukan aku seseorang yang kaupersilakan masuk ke dalam hidupmu, melihat lebih dekat apa pun yang kauberi sekat. . teruntuk kamu, seseorang yang dicintai begitu baik oleh hatiku. mungkin tulisan ini tidak terbaca olehmu, sebab banyaknya waktu sibukmu, aku tahu, tidak tersisa sedikit pun bagimu untuk aku. tidak apa-apa, aku menulis ini hanya ingin membuat hatiku sedikit lega. . jika suatu saat nanti kamu melihatku mulai melangkah mundur menjauhimu, bahkan membelakangimu, ketahuilah bahwa aku pernah dengan sabar menunggumu di depan pintu, berharap kamu mempersilakanku masuk. tetapi, penantian baikku tidak pernah ternilai baik di ...