Postingan

Terlanjur.

Beberapa tahun dari sekarang, kita akan bertemu lagi tanpa sengaja. Di tempat yang dulu pernah kita datangi bersama, di waktu yang sama. Mungkin kau sudah lupa, tapi gerak tubuhmu tanpa sadar membawamu ke tempat itu seakan kenangan tentang kita dulu sudah mendarah daging di hatimu. Kau akan tak sengaja melihatku. Dan aku akan terkejut melihatmu. Lalu kita berdua saling melempar senyum yang kita tau itu tak lebih dari pura-pura agar tak kentara. Ada yang berbeda kulihat di dirimu, akza itu sudah besar sekarang. Aku akan mengucapkan selamat karena kamu sudah berhasil menjadi ayah yg baik (lagi). Kau akan mengangguk mengiyakan. Diawali dari basa-basi, ternyata kita berujung dengan berbicara panjang lebar membicarakan semua yang telah kita lewati semenjak perpisahan dulu itu. Kau melihat ke arah jemariku. Kau tak menemukan apa yang kau cari di sana, lalu kau melihat ke arahku. “Aku masih ingat, dulu aku selalu berencana menggantikan seseorang dari hidupmu”. Kau terkekeh seb...

Menyerahkan diri

Coba sejenak kamu bayangkan, di dini hari yang begitu mendung dan dingin seperti ini, kamu pulang ke rumah dari segala lelahmu menyelesaikan hobimu, futsal. Melewati puluhan lampu jalan ber-embun yang lembab di hujani pertanyaan-pertanyaan curiga yang sering dia lontarkan kepada kamu hingga pada akhirnya kamu sampai di dekapku. Kamu pulang dan mendapati aku sudah ada di sana. Duduk di ruang sepetak yang berisi kasur dan boneka beruang coklat besar pemberian mantan kekasihku, kita menyambutmu yang begitu kelelahan. Pulangmu kusambut dengan kecupan di kening dan pelukan yang erat. Lalu kemudian kamu rebah di sebelahku, menceritakan segala keluh kesah harimu di tempat kerja, di lapangan futsal, dan di jalan. Menceritakan tentang apa makan siangmu, loyo-nya teman team mu di lapangan, dan bertemu siapa saja kamu siang tadi. Kita duduk di satu kasur yang sama. Bercerita tentang banyak hal yang tak kunjung ada habisnya. Merencanakan tentang perubahan-perubahan baru di sudut angan kita. Juga...

Kudamaikan Perasaanku.

tidak pernah kurasakan sejauh ini berjarak denganmu. semakin hari, tembok yang kau bangun semakin tinggi. sedang di sini, aku hanya diizinkan untuk menebak apa pun yang tersembunyi. kau tahu bukan, bahwa aku hanya manusia biasa. Tuhan tidak memberiku keistimewaan untuk bisa membaca pikiran orang. tetapi tidak apa-apa, aku akan tetap menerima jika pada akhirnya bukan aku seseorang yang kaupersilakan masuk ke dalam hidupmu, melihat lebih dekat apa pun yang kauberi sekat. . teruntuk kamu, seseorang yang dicintai begitu baik oleh hatiku. mungkin tulisan ini tidak terbaca olehmu, sebab banyaknya waktu sibukmu, aku tahu, tidak tersisa sedikit pun bagimu untuk aku. tidak apa-apa, aku menulis ini hanya ingin membuat hatiku sedikit lega. . jika suatu saat nanti kamu melihatku mulai melangkah mundur menjauhimu, bahkan membelakangimu, ketahuilah bahwa aku pernah dengan sabar menunggumu di depan pintu, berharap kamu mempersilakanku masuk. tetapi, penantian baikku tidak pernah ternilai baik di ...

Kepada anak laki-laki seseorang yang menjadikan aku sebagai kekasihnya.

aku menulis puisi sebab waktu kanak-kanak aku ingin menjadi seorang pramugari—dan tidak mau saudara kandung ibuku dan teman-temanku tertawa sekali lagi karena ibuku janda tukang cukur rambut. aku menulis puisi agar mereka tahu anak tukang cukur rambut juga boleh menyimpan cita-citanya di bulan, di langit, atau di tempat yang jauh lebih tinggi. aku menulis puisi sebab aku tidak mau menyakiti hati ibuku dengan kata-kata saat aku tidak mampu menjadi anak perempuan yang kuat menahan perut kosong karena penyakit yang lahir bersama lambungku. aku menulis puisi agar ibuku mau tersenyum ketika ia lelah menunggu seharian dan tak ada seorang pelanggan-pun datang. aku menulis puisi sebab aku ingin mengungkapkan kepada saudara ibuku, aku tak mampu beli sepatu dan baju model terbaru. aku tak mampu mentraktir teman dekatku ketawa bersama menonton bioskop atau ke kafe bagus. aku menulis puisi agar mereka tahu kata-kata telah membuat aku tak bunuh diri karena setiap hari mendengar mereka menertaw...

Tentang hal - hal yang belum selesai

Aku perempuan yang hatinya gelap gulita. Lantaran terselimuti kenangan-kenangan. Dan kini aku adalah seorang pendendam yang genit. Akan ku balas apa yg pernah dia buat kepada ku. Dan aku tak tahu kapan harus berhenti. Aku tidak percaya pada mereka yang perhatian. Yang bertanya aku dimana dan mengucapkan selamat pagi. Manis-manis yang begitu itu omong kosong. Kisah-kisah menyakitkan itu kerap membuat aku merasa takut kepada cinta. Takut kecewa lagi. Takut ujungnya sama saja; dia anggap remeh. Basa-basi yang kamu tunjukan itu seperti sebuah film pendek tugas semester 4. Di mana di dalamnya aku pemeran sekaligus penonton. Cerita yang ditutup oleh penyesalan. Aku mencintaimu dengan rasa takut yang tak pernah mampu ku tulis. Cukuplah kita, sebagai bahagia yang penuh umpama atau barangkali sebagai doa yang belum tentu di amin-i. Cinta adalah sakit yang tak kunjung sembuh. Kelak ketika musim penghujan tiba, akan aku buatkan kamu secarik puisi yang tidak melibatkan kata-kata susah, agar ...

Menjadi Asing.

Barangkali, aku ingin abai kepadamu. Apa kamu baik-baik saja di sana? Tentu semua bisa berjalan dengan semestinya bukan? Kini sudah saatnya aku menyadari satu hal. Aku ternyata benar-benar telah kehilanganmu. Kamu menjadi lain dan asing untuk hal-hal yang kuimpikan. Aku tau kamu sedang membiasakan diri tanpa aku. Kamu sedang mencoba menikmati hidupmu yang baru. Aku pun begitu, sebenarnya aku juga ingin belajar menerima kenyataan, kamu tidak ada lagi disini. Kamu bukan orang yang cerewet lagi kalau aku lupa makan sebab aku tidak pernah mau makan sendirian. Kamu juga bukan orang yang peduli lagi kalau aku memaksakan diri bolos jam kuliah saat hujan. Kamu membiasakan diri untuk tidak menjadi kebiasaanku lagi. Namun, sayang. Tahukah kamu? Semua kebiasaan itu membuatku dihantam kehilangan. Tak usah kamu tanya bagaimana sesaknya. Kamu tau bagaimana rasanya menjabarkan sedih. Kehilangan membuatku tak ingin mengenali diriku sendiri. Sekarang ini pasti kamu sedang bertanya-tanya; "bagaim...

Rumit.

Hello, saya kembali. Saya mencoba menenangkan diri, menjauh dari hobi saya, karena suatu kesalahan yang saya buat sendiri. Saya mencoba menjabarkan sedikit permasalahan yang saya tidak mampu berpikir dan menguraikannya sendiri, sendirian. Dan, nyatanya ini sudah remuk dan berserakan. Dengan seseorang asing, kadang kamu temukan keintiman yang lain. Sebuah hangat yang bukan pelukan, bukan ciuman. Seperti angin yang tak bisa di duga kapan kencangnya. Ada lalu tak ada. Hangatnya kadang melebihi pertemuan dua tubuh yang saling memasrahkan diri. Bergetar, dan tak ingin tanggal- jika boleh tinggal lebih lama. Aku ingin tinggal lebih lama di kota ini, kota rumit ini. Tiga hari lalu saya melihat beberapa foto yang kamu gabungkan menjadi satu postingan, menggunakan fitur instagram terbaru. Seseorang dengan kaos merah yang saya suka saat kamu kenakan itu, dengan kepulan asap rokok di mulutnya. Tentu dengan kumis tipis yang runcing beda panjang antara sisi kanan dan kiri-mu itu. Seruncing kedu...