Menjadi Asing.
Barangkali, aku ingin abai kepadamu.
Apa kamu baik-baik saja di sana? Tentu semua bisa berjalan dengan semestinya bukan? Kini sudah saatnya aku menyadari satu hal. Aku ternyata benar-benar telah kehilanganmu. Kamu menjadi lain dan asing untuk hal-hal yang kuimpikan. Aku tau kamu sedang membiasakan diri tanpa aku. Kamu sedang mencoba menikmati hidupmu yang baru. Aku pun begitu, sebenarnya aku juga ingin belajar menerima kenyataan, kamu tidak ada lagi disini. Kamu bukan orang yang cerewet lagi kalau aku lupa makan sebab aku tidak pernah mau makan sendirian. Kamu juga bukan orang yang peduli lagi kalau aku memaksakan diri bolos jam kuliah saat hujan. Kamu membiasakan diri untuk tidak menjadi kebiasaanku lagi.
Namun, sayang. Tahukah kamu? Semua kebiasaan itu membuatku dihantam kehilangan. Tak usah kamu tanya bagaimana sesaknya. Kamu tau bagaimana rasanya menjabarkan sedih. Kehilangan membuatku tak ingin mengenali diriku sendiri. Sekarang ini pasti kamu sedang bertanya-tanya; "bagaimana mungkin aku merasa kehilangan sesuatu yang pernah dengan sengaja aku ingin hilangkan?" Aku berusaha menjadi orang lain. Aku mencoba menikmati hari-hari yang bukan diriku lagi. Sebab, menjadi diriku artinya aku sama sekali tidak bisa melepaskanmu. Belum. Sedang kamu sudah berhasil melupakanku.
Kenyataannya, kamu tidak lagi bersedia berada di sampingku. Bahkan untuk sekedar berkabar saja kamu enggan. Sementara dulu, kamu adalah orang yang paling tidak suka kalau aku menutup telpon mu sebelum membalas kata sayangmu. Kamu adalah orang paling tidak suka kalau aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar tanpa kamu. Kamu adalah orang yang akan selalu membuka hari denganku walau hanya dengan sebuah ajakan sarapan yang kesiangan.
Sekarang, sayang. Aku hanyalah orang yang mencoba membiasakan diri tanpamu. Menjadi orang lain. Bertemu teman baru, berbincang lalu saling bertukar cerita perihal yang membuatku merasa tidak menjadi diriku. Aku tidak bahagia jika harus secepat ini melupakanmu, menerima kenyataan bahwa sudah benar-benar ada yang menggantikanku. Namun, aku teramat paham. Aku tidak akan mampu memaksakanmu untuk tetap diam bersamaku, untuk tetap menjadi seseorang yang mencintaiku, seperti dulu. Kalau saja hal baru dan seseorang yang baru sudah membuatmu merasa aku memang diciptakan hanya sebatas masa lalu.
Aku tidak pernah ingin menyalahkanmu. Aku sendiri yang membuat ini rancu. Sekarang seolah aku yang menjadi benalu saja di hidupmu. Yang terjadi ini bukanlah hal yang ingin aku sesali. Sebab aku telah berusaha sepenuh hati, jika kamu mau percaya. Hal yang harus aku lakukan adalah menyakinkan diriku lebih dalam lagi. Kamu benar-benar telah pergi dan tidak akan kembali lagi. 🙂
Aku dipaksa iklas akan hal-hal yang tidak ingin kulepas. Aku ingin bertanya. Pada bagian ini, apakah yang menyenangkan dari pernah jatuh cinta pada yang telah berakhir? Semoga segala perasaan rinduku yang kemarin terasa menjadi sesuatu yang menjadikan kita semestinya. Teruslah berjalan semakin jauh. Biar aku memenangkan prasangka ku dan kutemui alasan untuk kembali mencitai diriku sendiri.
Tidak ada satu pun manusia yang bisa lupa dalam hitungan hari, yang ada hanyalah orang yang bisa berpura-pura lupa dan memilih tidak peduli. Atau, yang lebih menuruti ambisi untuk memenuhi keinginan diri. Kamu bagian yang mana?
Perihal aku yang masih sesekali membahasmu di sosial media ku, aku pikir itu wajar saja. Sungguh, sesaat lagi juga aku akan kembali lupa. Semoga saja kamu benar-benar berhasil melupakanku. Aku selalu percaya, tidak ada hal yang abadi dari kesedihan. Yang ada hanyalah usaha mempertahankan kesempatan. Sementara kamu seseorang yang tidak bisa menjaga kesempatan. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk membiarkanmu betah disini, meski kamu kerap datang di kepala.
Peluk rindu.
Komentar
Posting Komentar