Tentang hal - hal yang belum selesai

Aku perempuan yang hatinya gelap gulita. Lantaran terselimuti kenangan-kenangan. Dan kini aku adalah seorang pendendam yang genit. Akan ku balas apa yg pernah dia buat kepada ku. Dan aku tak tahu kapan harus berhenti.

Aku tidak percaya pada mereka yang perhatian.
Yang bertanya aku dimana dan mengucapkan selamat pagi.
Manis-manis yang begitu itu omong kosong.
Kisah-kisah menyakitkan itu kerap membuat aku merasa takut kepada cinta. Takut kecewa lagi. Takut ujungnya sama saja; dia anggap remeh.
Basa-basi yang kamu tunjukan itu seperti sebuah film pendek tugas semester 4. Di mana di dalamnya aku pemeran sekaligus penonton. Cerita yang ditutup oleh penyesalan.

Aku mencintaimu dengan rasa takut yang tak pernah mampu ku tulis. Cukuplah kita, sebagai bahagia yang penuh umpama atau barangkali sebagai doa yang belum tentu di amin-i. Cinta adalah sakit yang tak kunjung sembuh. Kelak ketika musim penghujan tiba, akan aku buatkan kamu secarik puisi yang tidak melibatkan kata-kata susah, agar kamu dapat membacanya sambil berselimut dan mengangankan sebuah pelukan dari belakang yang selalu aku janji-kan. 

Akhirnya kata-kata menuntun kita pada sebuah pagi. Beberapa prasangka seorang teman yang sudah terlanjur kita benarkan. Hingga tiba saatnya aku harus undur diri. Saling kejar hanya membuat kita hilang nalar. Ternyata waktu tak terlalu sabar untuk menutupi kebahagiaan kita. Sehingga aku kurang bersiap diri untuk beberapa hal yang layak kamu lupakan. Sebelum awan dan senja berganti peran, dengan mata yang masih basah, aku ingin pulang. Seperti ada yang melubangi dada. Kita kembali saja pada apa yang pernah kita tulis dalam diam. Jika musim kedepan tidak memberiku pilihan, aku berharap di beri kesempatan untuk selalu di dekatmu.

Komentar