Kepada anak laki-laki seseorang yang menjadikan aku sebagai kekasihnya.

aku menulis puisi sebab waktu kanak-kanak aku ingin menjadi seorang pramugari—dan tidak mau saudara kandung ibuku dan teman-temanku tertawa sekali lagi karena ibuku janda tukang cukur rambut. aku menulis puisi agar mereka tahu anak tukang cukur rambut juga boleh menyimpan cita-citanya di bulan, di langit, atau di tempat yang jauh lebih tinggi.
aku menulis puisi sebab aku tidak mau menyakiti hati ibuku dengan kata-kata saat aku tidak mampu menjadi anak perempuan yang kuat menahan perut kosong karena penyakit yang lahir bersama lambungku. aku menulis puisi agar ibuku mau tersenyum ketika ia lelah menunggu seharian dan tak ada seorang pelanggan-pun datang.
aku menulis puisi sebab aku ingin mengungkapkan kepada saudara ibuku, aku tak mampu beli sepatu dan baju model terbaru. aku tak mampu mentraktir teman dekatku ketawa bersama menonton bioskop atau ke kafe bagus. aku menulis puisi agar mereka tahu kata-kata telah membuat aku tak bunuh diri karena setiap hari mendengar mereka menertawai aku di grup keluarga.
aku menulis puisi sebab aku berharap bisa jadi ibu yang tak mampu meneriakkan kalimat kasar kepada suami dan anak-anaknya. waktu kecil, aku menangis saat ayah membentak aku dan ibuku. aku berharap bisa jadi ibu yang tak melarang ayahmu pergi bermain futsal saat pulang kerja atau jika ia pergi memancing dini hari, untuk mencari jeda demi bertemu kekasihnya yang lain.  aku senang mendengar musik, sebab itu aku sering menyanyikan sepenggal lagu dengan nada gitar seadanya hadiah ulang tahun dari mantan kekasihku di usia 21 tahun ini, untuk ayahmu karena aku harus menutupi rasa cintaku pada ayahmu dari ibumu. aku menulis puisi agar orang-orang tahu kata-kata adalah pedang yang bisa dilipat menjadi perahu dan pesawat mainan juga bunga kejutan ulang tahun ibumu yang aku minta ayahmu untuk memberikannya.
aku menulis puisi sejak masih kecil seperti kamu, bukan untuk menjadi penyair. aku ingin jadi pramugari, seorang yang mampu ke tempat tertinggi di mana pernah dia menyimpan mimpinya. aku menulis puisi ini untukmu di jendela, sambil berpandangan dengan hujan, agar kamu tahu aku gagal dalam banyak hal di hidupku—termasuk menjadi istri, ayahmu.
aku menulis puisi ini agar kamu tahu bahwa kehidupan, bagaimana pun kejamnya, selalu indah untuk dituliskan menjadi puisi.

Komentar