Menyerahkan diri

Coba sejenak kamu bayangkan, di dini hari yang begitu mendung dan dingin seperti ini, kamu pulang ke rumah dari segala lelahmu menyelesaikan hobimu, futsal. Melewati puluhan lampu jalan ber-embun yang lembab di hujani pertanyaan-pertanyaan curiga yang sering dia lontarkan kepada kamu hingga pada akhirnya kamu sampai di dekapku.

Kamu pulang dan mendapati aku sudah ada di sana. Duduk di ruang sepetak yang berisi kasur dan boneka beruang coklat besar pemberian mantan kekasihku, kita menyambutmu yang begitu kelelahan. Pulangmu kusambut dengan kecupan di kening dan pelukan yang erat. Lalu kemudian kamu rebah di sebelahku, menceritakan segala keluh kesah harimu di tempat kerja, di lapangan futsal, dan di jalan. Menceritakan tentang apa makan siangmu, loyo-nya teman team mu di lapangan, dan bertemu siapa saja kamu siang tadi.

Kita duduk di satu kasur yang sama. Bercerita tentang banyak hal yang tak kunjung ada habisnya. Merencanakan tentang perubahan-perubahan baru di sudut angan kita. Juga tentang liburan-liburan di akhir bulan yang sudah kita rencanakan dari bulan-bulan sebelumnya.

Kemudian, kita sama-sama berbaring di tempat tidur yang sama. Kamu tidur di atas dadaku, tentu aku akan dengan hangat mendekapmu sambil menyeka rambut basahmu dan kita membicarakan tentang masalah yang selama ini mengganjal di pikiran. Meski kita terdiri dari dua ego yang berbeda, aku selalu suka cara kita dalam menyelesaikan masalah. Kamu mengisi di tiap aku keras kepala, dan aku mendengarkan di tiap kamu menjelaskan.

Lepas dari segala perihal rumit kamu dengan dia, aku hanya ingin menjadi seseorang yang membuatmu merasa pulang. Datanglah sesekali, tak apa.. jangan hiraukan perasaanku ketika kamu tak sanggup menjawab pertanyaan sulit tentang bagaimana nanti aku jika kamu sedang kembali dengan dia. Sungguh, datanglah walaupun hanya sekedar berkeluh-kesah. Menjabarkan bagaimana cara kamu menghadapi dia, bagaimana kamu harus bersikap di depan keluarga dia, bagaimana kamu harus menjawab pertanyaan jika nanti kamu dan dia tidak bersama. Denganmu, aku rela mendengar apa yang tidak bisa orang lain dengar. Memahami apa yang teman yang lain tidak mampu pahami.

Aku sudah benar-benar tak sabar untuk sampai di titik itu.

Menyambutmu pulang.

Menciptakan cerita bahagia di kehidupan baru kita.

Melepaskan segala kecewa perihal dunia,

Dan menciptakan arti terindah dari kata Pulang yang sebenarnya.

Komentar