Terlanjur.

Beberapa tahun dari sekarang, kita akan bertemu lagi tanpa sengaja. Di tempat yang dulu pernah kita datangi bersama, di waktu yang sama. Mungkin kau sudah lupa, tapi gerak tubuhmu tanpa sadar membawamu ke tempat itu seakan kenangan tentang kita dulu sudah mendarah daging di hatimu.

Kau akan tak sengaja melihatku. Dan aku akan terkejut melihatmu. Lalu kita berdua saling melempar senyum yang kita tau itu tak lebih dari pura-pura agar tak kentara. Ada yang berbeda kulihat di dirimu, akza itu sudah besar sekarang.

Aku akan mengucapkan selamat karena kamu sudah berhasil menjadi ayah yg baik (lagi). Kau akan mengangguk mengiyakan. Diawali dari basa-basi, ternyata kita berujung dengan berbicara panjang lebar membicarakan semua yang telah kita lewati semenjak perpisahan dulu itu.

Kau melihat ke arah jemariku.

Kau tak menemukan apa yang kau cari di sana, lalu kau melihat ke arahku.

“Aku masih ingat, dulu aku selalu berencana menggantikan seseorang dari hidupmu”. Kau terkekeh sebentar seperti dipaksakan agar tak terkesan canggung, “Namun ternyata di sinilah kita sekarang.” Aku melanjutkan sembari berusaha untuk tak melihat ke arah matamu.

“Seandainya dulu kau tak pergi,” Balasmu pelan.

Kita sama-sama terdiam.

Kau menunduk sebentar lalu kemudian kembali melihat ke arahku.

“Seandainya dulu kau tak membiarkan aku pergi..” Lanjutku perlahan.

Dan di sinilah kita sekarang.

Dua insan yang masih sama-sama ingin, namun sudah terlanjur melangkah terlalu jauh untuk kembali. Seandainya saat itu kita mau sedikit saja bersabar lebih lama, mungkin sekarang kita sudah bahagia.

Komentar